Minggu, 07 Februari 2016

Cerpen : misteri suara "Meong" di kamarku

Hari minggu, adalah hari ketika kami “jomblo” ingin menghabiskan waktu dengan satu hobi. Baik itu menonton televisi, berebut remote televisi, berunding bersama mengumpulkan uang untuk membeli televisi, dan seminimum mungkin berdoa agar hujan turun untuk menggagalkan kegiatan berkunjung kekasih. Hari ini aku akan membuat sebuah cerita pendek yang temanya belum aku ketahui. Sesambil Aku memasak air untuk menyeduh kopi, aku mempersiapkan sebuah laptop, sebuah buku, dan sebuah pulpen. Air dimasak, gelaspun bertindak. Setelah selesai aku menyeduh kopi. Aku duduk dengan manis berhadapan dengan sebuah laptop yang terdiam kaku, tak berucap, tak menyala. ternyata lupa aku menekan tombol power.

Dan… “net!! syyyiiiinggh” kira-kira begitulah suara laptop tua , laptop menyala dengan hati gembira. Ketika aku bersiap mengetik sebuah cerita, dengan perasaan senang riang gembira, tiba-tiba ada suara kecil…. “meong..meong..meong”. terdiam aku terpanah dengan suara anak kucing yang tak tahu tempat suara itu berasal. Lalu aku cari suara itu. Dibalik lemari, di bawah tempat tidur, di sudut kamar, tidak ada! Aku curiga itu ada di dalam tasku, ataupun di dalam dompetku, atau ia hanya suara halusinasiku. Kacau pikiranku.. Malam ini terasa mencekam, namun tak sehebat mencekamnya sang kekasih mengucap “kita putus, kamu terlalu baik untuk aku”. Terdiamku di bilik pintu kamar, bersandar sambil sesekali memejamkan mata. “ohh tuhaaan.. jangan kau rusak malam ini dengan suara misterius ini” berdoaku dengan mengangkat tangan lebih tinggi dari biasanya. Tak tahu aku suara itu, menengok ke kanan dan ke kiri, hanya siluet hitam yang menemani.

Lalu aku dengar dengan seksama dalam tempo yang sesingkatnya. “meong..meong..meong” Siapa ituuuuu? Aku bertanya seakan-akan ada yang menjawab. Aku tebak suara itu berasal dari lemari baju, diam-diam aku mengendap-endap merangkak mendekati lemari. Lalu aku buka lemari itu. Dan… “meong..meong..meong” ADA KUCING MELAHIRKAN DI LEMARIKU! Ada seekor ibu kucing dan tiga anaknya yang menangis. Ingin aku tertawa, namun tak bisa. Menangis, juga tak bisa. KAGET itu kata yang pantas untuk “lelaki paruh baya yang menemukan kucing melahirkan dilemarinya”.

Tidak sampai disitu, ibu kucing itu pergi meninggalkan anak-anaknya dari lemariku dengan rasa tidak bersalah.
“Heh! Seenaknya aja melahirkan di lemari orang, anak-anaknya ditinggal, gak permisi pula” celotehanku dengan bodohnya, seakan-akan memaksa kucing itu menjawab “iya, maaf”

“maaa.. ada kucing melahirkan di lemari baju nih”
“hah! Jangan bercanda deh kamu.” Ibuku menjawab, seperti tak percaya.
“buat apa bohong ma? Mau minta uang jajan, ngapain bohong begini”
“kok sudah melahirkan aja, kapan hamilnya?” Ibuku bertanya dengan polosnya.
“nahloh.. mana Yusril tau, emangnya Yusril yang bikin hamil” Menjawab dengan herannya.
“yasudah.. pindahin aja..”
“Lemarinya??”
“bukan, kucingnya lah”
“kucingnya kan pergi”
“itu ibunya, anaknya yang dipindahin”
“ohiya..” Mengakhiri obrolan jarak jauh dari kamar ke kamar.

Lalu aku memindahkan anak-anak kucing yang lucu nan imut itu dengan harapan ketika sudah besar nanti, tidak seperti ibunya yang melahirkan di lemari baju orang. “lucunya negeri ini” tidak hanya berlaku untuk manusia didalamnya, namun untuk semuanya tak kecuali kucing. Walau itu hanya anak kucing tapi apa bedanya dengan anak bayi, yang masih rapuh, membutuhkan kasih sayang, harus ada yang selalu di sampingnya. Malu aku malu, pada semut merah. Yang  berbaris di dinding, menatapku curiga, seakan penuh tanya “sedang apa disini?” Memindahkan anak kucing jawabku.

Dan akhirnya aku ganti keinginan menulis sebuah cerita pendek dengan keinginan yang memaksakan untuk memindahkan dan membersihkan TKP (Tempat Kelahiran Perkara). Aku tidak sedih apalagi kesal, karena memang  cerita pendekku temanya masih belum aku ketahui.

Senin, 01 Februari 2016

Mari Berandai Kesepian dan Pengucapan



Sepi, adalah kata berjuta makna. Bagi gua sama halnya dengan perpindahan, kesepian itu adalah pasti. Benar atau salah setiap manusia pasti pernah berada di suatu titik dimana hanya hati dan pikiran yang menemani. kesepian tidak hanya ketika seseorang sendirian. Banyak juga yang merasakan kesepian diantara keramaian. Imajinasi berandai-andai seperti hujan di siang hari. Hujan tidak memandang ketika panas atau mendung. Ia dating hanya untuk mengisi kekosongan. Seperti matahari dengan gerhana yang menjadikannya lebih indah.. seperti bubur nasi dengan taburan bawang gorengnya.. mungkin terlihat tidak penting, namun sangat mempengaruhi rasa buburnya..

Tapi kali ini gua gak ingin membicarakan buburnya, namun taburan bawang gorengnya. Siapa sangka dengan sedikit taburan bisa mempengaruhi rasa. Seperti air yang selalu rendah diri dengan kopi. 

Banyak orang mengatakan “minum kopi”, namun mereka tidak memikirkan perasaan airnya. Bagaimana bisa kita minum kopi tanpa menggunakan air. Kenapa mereka tidak mengatakan “minum air kopi” ketimbang “minum kopi”?? seberapa tidak pentingnya air itu?? Itu ibarat datang ke pesta pernikahan, namun kita hanya bersalaman dengan mempelai wanitanya.

Banyak banget pemikiran masyarakat yang salah. Misalkan pengejaan huruf alphabet. Gua udah setahun lebih belajar Bahasa Indonesia. Dan gua sadar bahwa ada yang salah dengan pengejaan anak kecil jaman sekarang.. gua beranggapan begitu ketika belajar mata kuliah fonologi, ilmu yang mempelajari bunyi Bahasa. Jadi gua belajar fonologi semeseter 1 berasa belajar membaca kelas 1 SD (karena pengalaman gua gak pernah TK, langsung ke sekolah dasar). Pengejaaan huruf yang salah adalah huruf L, M, N, R, dan S.

Contoh huruf L, pengucapannya sebenarnya seperti pengucapan huruf e kecil dan huruf L (eL). Tetapi yang diajarkan saat ini adalah pengucapan L itu adalah seperti pengucapan E besar dan huruf L (EL). Kalau di sebuah kata LALA. Pengucapannya eL-A-LA eL-A-LA = LALA, bukan seperti EL-A-LA EL-A-LA = ELAELA. Sama halnya dengan M,N,R,dan S = eM-A-MA eM-A-MA = MAMA, bukan seperti EM-A-MA EM-A-MA = EMA-EMA. Menurut gua pengucapan salah ini yang menciptakan panggilan “EMA-EMA/EMAK-EMAK”.

Maaf kalau materi ilmunya kurang jelas, karena itu ilmu bunyi bahasa, jadi agak sulit kalau dijadikan sebuah tulisan...

Rabu, 13 Januari 2016

3R - Rindu, Resah, dan Resolusi

Salam jumpa kembali, bersama saya yang masih sendiri. Barangkali kamu bisa membuka hati kepada pemuda sopan yang menuliskan kalimat ini. Banyak banget hal-hal yang gua lalui dari semester 3 ini, mulai dari kisah konflik menjadi pimpinan redaksi majalah kampus, pementasan drama “Gado-Gado Sastra”, dan sampai gua bisa ber-Stand Up Comedy di acara KSR PMI UNINDRA. Gua akan menceritakan keresahan gua saat ini yang dijadikan sebuah bahan stand up comedy, semoga kamu suka, kalau gak suka yaaaa pura-pura suka lah yaa…

Mahasiswa bahasa Indonesia, adalah mahasiswa berjiwa muda, karena pemuda jaman sekarang sangatlah berperasaan, makanya gua setuju dengan pernyataan bahwa Jurusan bahasa dan sastra adalah jurusan yang didalamnya banyak orang-orang baper, baper banget malah.. kita dituntut untuk peka terhadap perasaan..  

Makanya banyak yang anak bahasa itu suka banget bergalau ria. Galau bagi kami (mahasiwa bahasa) bukan bersedih hati, tapi hiburan.. tapi terkadang suka salah dalam penempatannya.

Misalkan lagi belajar dikelas, ada dosen perempuan tanya ke mahasiswanya yang lagi bengong. Sebut saja namanya “indri”, nama panjangnya “getuk lINDRI”, yang kalau jualan tukangnya pake gerobak sambil setel lagu dangdut koplo..

Dosen : “Indri, apa harapan kamu tentang pendidikan di Indonesia?”

Terus Indrinya jawab. “Harapan saya.. sudah pupus bu.. hingga hati cedera serius..”. Malah curhat..

Ada lagi tuh dosen, dosen terkadang suka ngomel-ngomel kalau ada kesalahan penulisan nama, aslinya namanya “ Dian Siti maghfiroh, jadi “Dian Siti Nurbaya..” malah judul cerita rakyat..
Misalkan lagi pengumpulan tugas makalah, terus penulisan namanya ada yang salah, dosennya protes.

“heh, ini kok nama saya jadi berubah? Kamu lupa??..”

Terus mahasiswanya minta maaf. “ohiya bu, maaf.. saya lupa..”

Dosennya jawab. “Kamu mah gitu, lupa nama, inget rasa…”. Dosennya malah jadi genit..

Tapi gapapalah, karena itu wajar. Kami para mahasiswa bahasa suka menghibur diri dengan cara itu. Justru itu asik.. kami menghibur diri karena kita juga bisa stres dengan mata kuliah. Kita juga manusia loh.. kita banyak mempelajari istilah-istilah yang kadang bisa bikin mati berdiri..
Mata kuliah kita nih ada fonologi, morfologi, sintaksis, semantik, pragmatik, zaskia gotik, goyang itik, pantat burik, maju mundur cantiiiiiik.. banyak dah pokoknya…  

Ada juga mata kuliah “Teori Sastra”. Yang paling gua suka adalah ketika acara pementasan drama yaitu “Gado-Gado Sastra”.. banyak banger suka-dukanya. Mulai dari rapat naskah ceritanya, pengeditan berulang-ulang sampe gua sakit tipes, konflik di perdebatan latihan para pemainnya, kesalahan sama penulis naskahnya. Ngomong-ngomong ttg penulis naskahnya itu adalah gua, gua sangat merasa bersalah ketika satu hari sebelum pementasan, kita saling debat ttg unek-unek para pemain. Dan kebanyakan pada gak suka sama gua. Mengenai gak sukanya nanti bakal gua ceritain di lain posting.

Tibalah waktu pementasan, waktu itu kelas gua urutan ke-4. Judulnya adalah “Pena Sang Mentari”. Dan gua selain jadi penulis naskah, juga sebagai pemeran utama, pemeran utama… menjadi pertama kalinya memainkan drama dan jadi pemeran utama.. luar biasa banget bagi gua.

Pas gilliran kelas gua, gua siap-siap dibelakang tirai bersama properti. Ketika gua siap di bangku latar ruang makan. Gua sangat deg-degan.. sumpah.. gua gak bisa bayangin gimana tampilannya ketika tirai dibuka.. siap gak siap pastinya harus siap.. scene 1 dimulai, tirai dibuka, disaat itu gua berdebat sama temen gua ochol berperan sebagai ibunya amar dan gua jadi amar. Dialog dibagian itu adalah dialog yang memulai konflik.. tapi gua ada salah pengucapan yang gak gua sadari. Kalimatnya begini “Kenapa ibu selalu membandingkan aku dengan pekerjaan yang lain, membandingkan aku dengan kakak, membandingkan aku dengan Amar.. memangnya Amar salah bu??” salah di gua adalah jelas-jelas gua adalah Amar, kenapa gua membandingkan gua dengan diri gua sendiri.. sontak penonton yang denger jadi ketawa, padahal harusnya itu bagian konflik awal, marah… gua gak sadar kesalahan ucapan itu, gua bingung, gua berteriak dalam hati “kenapa penonton pada ketawaaa?? Ini gua lagi debat sama emak guaaa… lucunya dimanaaaa???”

Sampai akhirnya, cerita gua walaupun gak juara 1,2, atau 3. Tapi dapet juara “Tema dan Amanat Terbaik”. Baguslah yaa… berarti amanat didalamnya bisa tersampaikan. Bersyukur banget menjadikan pengalaman yang berarti banget bagi gua. Karena itu gua semakin tertarik sama dunia sastra baik itu drama, dan juga Stand Up Comedy pastinyaa.. hahaha

Semoga di tahun baru ini kita bisa memulai hidup menjadi lebih baik lagi. Mengenai resolusi di tahun ini, biarlah menjadi motivasi tersendiri. Nantikan lagi cerita dari pemuda bahasa, semoga kamu terbiasa dengan cerita yang terkadang bisa memutar balikkan fakta… setidaknya merusak pikiran lah yaa.. haahaha..