Selasa, 10 Mei 2016

Dengannya Masa Mudaku Terbawa Arah



Menjadi penyendiri adalah bukan suatu yang aku pilih, aku memilih berteman daripada berdiam. Namun, tak bisa dipungkiri. Lambat lawun semua menjadi seperti ini; sendiri atau menyendiri.

“Assalamualaikum..  berangkat maaa”. Aku menyapa Ibuku untuk pergi berangkat ke Toko Buku Gramedia di mall dekat rumah. “Hati-hati.. Jangan lupa shalat”. Jawab Ibuku yang tiada henti mengingatkanku untuk mengingat Sang Pencipta.

Berdiri Aku di tepi jalan, berbalut kemeja biru sederhana, bercelana Jeans panjang berujung sepatu besar seperti sepatu Boot para petani. Sambil menggendong tas coklat dengan eratnya, aku menunggu angkutan usang namun istimewa. Dengannya masa mudaku terbawa arah. Kira-kira 30 menit menunggu ia tak datang jua, ku tengok waktu terus berjalan seiring arah detik jam berputar. Datanglah angkutan usang namun istimewa itu dari kejauhan. Terlihat samar seiring pandangan ke depan, terlihat pengemudi besi tua itu yang juga sudah tua, berjalan sangat lambat, bahkan lebih cepat larinya seorang anak kecil yang berada di sampingnya untuk mengejar layang-layang. Tanganku bersiap-siap memberi aba-aba untuk memberhentikan besi tua itu. Sekiranya sudah semakin dekat jarak antara Dia dengan aku, ku tandai dengan setengah mengangkat tangan kiriku, lalu ku lambaikan dengan jari telunjuk. Bersamaan dengan itu aku berpikir ada yang aneh, “Ajaib!” ilmu macam apa ini? Seakan sang pengemudi itu sudah terhipnotis bahwa jika ada yang mengangkat tangannya lalu melambaikan jari-jarinya itu bertanda bahwa seseorang itu ingin menumpang. Tahu dari mana pengemudi itu? Seperi ada ikatan batin, aku curiga bahwa tanda itu juga termasuk di latihan pengemudi angkutan selain latihan mengenali tanda pada lampu lalu lintas. Lalu muncul dari pintu mobil itu, ada seorang anak muda bergelantungan menyapa semua orang yang ada di pinggir jalan “ayo mba, Pasar Minggu!”. Baju kusut dan kotor seperti baju montir, keringat bercucuran menjadi gaya penampilannya, semakin meyakinkan bahwa ia adalah kondekturnya.
      
      Menurutku menaiki angkutan adalah termasuk kebahagiaan tinggal di Indonesia, karena kita bisa bertemu orang-orang baru di setiap harinya. Sama halnya sebuah perasaan yang datang dan pergi, setiap kehidupan tak ada yang abadi. Posisi kursi yang paling “ideal” terlebih bagi kaum laki-laki adalah di kursi paling belakang, aku tahu kenapa? Karena tidak perlu susah untuk berdiri untuk turun. Namun, sama halnya dengan sebuah pilihan, ada baik dan buruknya. “neraka”nya duduk di kursi paling belakang di sebuah mobil angkutan adalah jika tidak ada kondekturnya “dan” penumpang sedang ramai-ramainya. Di situlah cara berpikir kita diuji, antara berjuang menerobos para penumpang dari berbagai macam bau badan atau bayar dengan cara keluar lebih dahulu lalu membayar langsung ke supir dari luar, namun hati-hati karena bisa disangka kabur (gak bayar).
      
     Hanya dari perjalanan di sebuah angkutan saja, sebenarnya kita sudah bisa mendapatkan cerita yang lucu dan pastinya jarang orang lain dapatkan. Bagaimana tidak? Karena banyak sekali keunikan tersendirinya. Mulai dari yang tadi aku sebutkan, para penumpang yang membayar ongkos angkutan dengan uang seratus ribuan –pada pagi hari-, obrolan dengan para pedagang kaki lima; tukang buah, tukang lem Korea, tukang permen jahe, hingga pengemis yang pura-pura kakinya buntung. Bisakah didapatkan selain di Indonesia? Belum tentu, negara ini terlalu unik untuk dibandingkan. Jadi, menurutku kita sebagai manusia harus mulai bisa menghargai apapun yang ada disekitar dengan se-detail mungkin, karena pasti itu adalah sesuatu yang jarang kita temukan atau bahkan tidak pernah lagi kita temukan.