Rabu, 13 Januari 2016

3R - Rindu, Resah, dan Resolusi

Salam jumpa kembali, bersama saya yang masih sendiri. Barangkali kamu bisa membuka hati kepada pemuda sopan yang menuliskan kalimat ini. Banyak banget hal-hal yang gua lalui dari semester 3 ini, mulai dari kisah konflik menjadi pimpinan redaksi majalah kampus, pementasan drama “Gado-Gado Sastra”, dan sampai gua bisa ber-Stand Up Comedy di acara KSR PMI UNINDRA. Gua akan menceritakan keresahan gua saat ini yang dijadikan sebuah bahan stand up comedy, semoga kamu suka, kalau gak suka yaaaa pura-pura suka lah yaa…

Mahasiswa bahasa Indonesia, adalah mahasiswa berjiwa muda, karena pemuda jaman sekarang sangatlah berperasaan, makanya gua setuju dengan pernyataan bahwa Jurusan bahasa dan sastra adalah jurusan yang didalamnya banyak orang-orang baper, baper banget malah.. kita dituntut untuk peka terhadap perasaan..  

Makanya banyak yang anak bahasa itu suka banget bergalau ria. Galau bagi kami (mahasiwa bahasa) bukan bersedih hati, tapi hiburan.. tapi terkadang suka salah dalam penempatannya.

Misalkan lagi belajar dikelas, ada dosen perempuan tanya ke mahasiswanya yang lagi bengong. Sebut saja namanya “indri”, nama panjangnya “getuk lINDRI”, yang kalau jualan tukangnya pake gerobak sambil setel lagu dangdut koplo..

Dosen : “Indri, apa harapan kamu tentang pendidikan di Indonesia?”

Terus Indrinya jawab. “Harapan saya.. sudah pupus bu.. hingga hati cedera serius..”. Malah curhat..

Ada lagi tuh dosen, dosen terkadang suka ngomel-ngomel kalau ada kesalahan penulisan nama, aslinya namanya “ Dian Siti maghfiroh, jadi “Dian Siti Nurbaya..” malah judul cerita rakyat..
Misalkan lagi pengumpulan tugas makalah, terus penulisan namanya ada yang salah, dosennya protes.

“heh, ini kok nama saya jadi berubah? Kamu lupa??..”

Terus mahasiswanya minta maaf. “ohiya bu, maaf.. saya lupa..”

Dosennya jawab. “Kamu mah gitu, lupa nama, inget rasa…”. Dosennya malah jadi genit..

Tapi gapapalah, karena itu wajar. Kami para mahasiswa bahasa suka menghibur diri dengan cara itu. Justru itu asik.. kami menghibur diri karena kita juga bisa stres dengan mata kuliah. Kita juga manusia loh.. kita banyak mempelajari istilah-istilah yang kadang bisa bikin mati berdiri..
Mata kuliah kita nih ada fonologi, morfologi, sintaksis, semantik, pragmatik, zaskia gotik, goyang itik, pantat burik, maju mundur cantiiiiiik.. banyak dah pokoknya…  

Ada juga mata kuliah “Teori Sastra”. Yang paling gua suka adalah ketika acara pementasan drama yaitu “Gado-Gado Sastra”.. banyak banger suka-dukanya. Mulai dari rapat naskah ceritanya, pengeditan berulang-ulang sampe gua sakit tipes, konflik di perdebatan latihan para pemainnya, kesalahan sama penulis naskahnya. Ngomong-ngomong ttg penulis naskahnya itu adalah gua, gua sangat merasa bersalah ketika satu hari sebelum pementasan, kita saling debat ttg unek-unek para pemain. Dan kebanyakan pada gak suka sama gua. Mengenai gak sukanya nanti bakal gua ceritain di lain posting.

Tibalah waktu pementasan, waktu itu kelas gua urutan ke-4. Judulnya adalah “Pena Sang Mentari”. Dan gua selain jadi penulis naskah, juga sebagai pemeran utama, pemeran utama… menjadi pertama kalinya memainkan drama dan jadi pemeran utama.. luar biasa banget bagi gua.

Pas gilliran kelas gua, gua siap-siap dibelakang tirai bersama properti. Ketika gua siap di bangku latar ruang makan. Gua sangat deg-degan.. sumpah.. gua gak bisa bayangin gimana tampilannya ketika tirai dibuka.. siap gak siap pastinya harus siap.. scene 1 dimulai, tirai dibuka, disaat itu gua berdebat sama temen gua ochol berperan sebagai ibunya amar dan gua jadi amar. Dialog dibagian itu adalah dialog yang memulai konflik.. tapi gua ada salah pengucapan yang gak gua sadari. Kalimatnya begini “Kenapa ibu selalu membandingkan aku dengan pekerjaan yang lain, membandingkan aku dengan kakak, membandingkan aku dengan Amar.. memangnya Amar salah bu??” salah di gua adalah jelas-jelas gua adalah Amar, kenapa gua membandingkan gua dengan diri gua sendiri.. sontak penonton yang denger jadi ketawa, padahal harusnya itu bagian konflik awal, marah… gua gak sadar kesalahan ucapan itu, gua bingung, gua berteriak dalam hati “kenapa penonton pada ketawaaa?? Ini gua lagi debat sama emak guaaa… lucunya dimanaaaa???”

Sampai akhirnya, cerita gua walaupun gak juara 1,2, atau 3. Tapi dapet juara “Tema dan Amanat Terbaik”. Baguslah yaa… berarti amanat didalamnya bisa tersampaikan. Bersyukur banget menjadikan pengalaman yang berarti banget bagi gua. Karena itu gua semakin tertarik sama dunia sastra baik itu drama, dan juga Stand Up Comedy pastinyaa.. hahaha

Semoga di tahun baru ini kita bisa memulai hidup menjadi lebih baik lagi. Mengenai resolusi di tahun ini, biarlah menjadi motivasi tersendiri. Nantikan lagi cerita dari pemuda bahasa, semoga kamu terbiasa dengan cerita yang terkadang bisa memutar balikkan fakta… setidaknya merusak pikiran lah yaa.. haahaha..