Salam jumpa kembali, bersama saya yang masih sendiri. Barangkali
kamu bisa membuka hati kepada pemuda sopan yang menuliskan kalimat ini. Banyak
banget hal-hal yang gua lalui dari semester 3 ini, mulai dari kisah konflik
menjadi pimpinan redaksi majalah kampus, pementasan drama “Gado-Gado Sastra”,
dan sampai gua bisa ber-Stand Up Comedy di acara KSR PMI UNINDRA. Gua akan
menceritakan keresahan gua saat ini yang dijadikan sebuah bahan stand up
comedy, semoga kamu suka, kalau gak suka yaaaa pura-pura suka lah yaa…
Mahasiswa bahasa Indonesia, adalah mahasiswa berjiwa muda,
karena pemuda jaman sekarang sangatlah berperasaan, makanya gua setuju dengan
pernyataan bahwa Jurusan bahasa dan sastra adalah jurusan yang didalamnya
banyak orang-orang baper, baper banget malah.. kita dituntut untuk peka
terhadap perasaan..
Makanya banyak yang anak bahasa itu suka banget bergalau
ria. Galau bagi kami (mahasiwa bahasa) bukan bersedih hati, tapi hiburan.. tapi
terkadang suka salah dalam penempatannya.
Misalkan lagi belajar dikelas, ada dosen perempuan tanya ke
mahasiswanya yang lagi bengong. Sebut saja namanya “indri”, nama panjangnya “getuk
lINDRI”, yang kalau jualan tukangnya pake gerobak sambil setel lagu dangdut
koplo..
Dosen : “Indri, apa harapan kamu tentang pendidikan di Indonesia?”
Terus Indrinya jawab. “Harapan saya.. sudah pupus bu.. hingga
hati cedera serius..”. Malah curhat..
Ada lagi tuh dosen, dosen terkadang suka ngomel-ngomel kalau
ada kesalahan penulisan nama, aslinya namanya “ Dian Siti maghfiroh, jadi “Dian
Siti Nurbaya..” malah judul cerita
rakyat..
Misalkan lagi pengumpulan tugas makalah, terus penulisan
namanya ada yang salah, dosennya protes.
“heh, ini kok nama saya jadi berubah? Kamu lupa??..”
Terus mahasiswanya minta maaf. “ohiya bu, maaf.. saya lupa..”
Dosennya jawab. “Kamu mah gitu, lupa nama, inget rasa…”. Dosennya
malah jadi genit..
Tapi gapapalah, karena itu wajar. Kami para mahasiswa bahasa
suka menghibur diri dengan cara itu. Justru itu asik.. kami menghibur diri
karena kita juga bisa stres dengan mata kuliah. Kita juga manusia loh.. kita
banyak mempelajari istilah-istilah yang kadang bisa bikin mati berdiri..
Mata kuliah kita nih ada fonologi, morfologi, sintaksis, semantik,
pragmatik, zaskia gotik, goyang itik, pantat burik, maju mundur cantiiiiiik..
banyak dah pokoknya…
Ada juga mata kuliah “Teori Sastra”. Yang paling gua suka
adalah ketika acara pementasan drama yaitu “Gado-Gado Sastra”.. banyak banger
suka-dukanya. Mulai dari rapat naskah ceritanya, pengeditan berulang-ulang
sampe gua sakit tipes, konflik di perdebatan latihan para pemainnya, kesalahan
sama penulis naskahnya. Ngomong-ngomong ttg penulis naskahnya itu adalah gua,
gua sangat merasa bersalah ketika satu hari sebelum pementasan, kita saling
debat ttg unek-unek para pemain. Dan kebanyakan pada gak suka sama gua. Mengenai
gak sukanya nanti bakal gua ceritain di lain posting.
Tibalah waktu pementasan, waktu itu kelas gua urutan ke-4. Judulnya
adalah “Pena Sang Mentari”. Dan gua selain jadi penulis naskah, juga sebagai
pemeran utama, pemeran utama… menjadi pertama kalinya memainkan drama dan jadi
pemeran utama.. luar biasa banget bagi gua.
Pas gilliran kelas gua, gua siap-siap dibelakang tirai
bersama properti. Ketika gua siap di bangku latar ruang makan. Gua sangat
deg-degan.. sumpah.. gua gak bisa bayangin gimana tampilannya ketika tirai
dibuka.. siap gak siap pastinya harus siap.. scene 1 dimulai, tirai dibuka,
disaat itu gua berdebat sama temen gua ochol berperan sebagai ibunya amar dan
gua jadi amar. Dialog dibagian itu adalah dialog yang memulai konflik.. tapi
gua ada salah pengucapan yang gak gua sadari. Kalimatnya begini “Kenapa ibu
selalu membandingkan aku dengan pekerjaan yang lain, membandingkan aku dengan
kakak, membandingkan aku dengan Amar..
memangnya Amar salah bu??” salah di gua adalah jelas-jelas gua adalah Amar,
kenapa gua membandingkan gua dengan diri gua sendiri.. sontak penonton yang
denger jadi ketawa, padahal harusnya itu bagian konflik awal, marah… gua gak
sadar kesalahan ucapan itu, gua bingung, gua berteriak dalam hati “kenapa
penonton pada ketawaaa?? Ini gua lagi debat sama emak guaaa… lucunya
dimanaaaa???”
Sampai akhirnya, cerita gua walaupun gak juara 1,2, atau 3. Tapi
dapet juara “Tema dan Amanat Terbaik”. Baguslah yaa… berarti amanat didalamnya
bisa tersampaikan. Bersyukur banget menjadikan pengalaman yang berarti banget
bagi gua. Karena itu gua semakin tertarik sama dunia sastra baik itu drama, dan
juga Stand Up Comedy pastinyaa.. hahaha
Semoga di tahun baru ini kita bisa memulai hidup menjadi
lebih baik lagi. Mengenai resolusi di tahun ini, biarlah menjadi motivasi
tersendiri. Nantikan lagi cerita dari pemuda bahasa, semoga kamu terbiasa
dengan cerita yang terkadang bisa memutar balikkan fakta… setidaknya merusak
pikiran lah yaa.. haahaha..