Hari minggu, adalah hari ketika
kami “jomblo” ingin menghabiskan waktu dengan satu hobi. Baik itu menonton televisi,
berebut remote televisi, berunding
bersama mengumpulkan uang untuk membeli televisi, dan seminimum mungkin berdoa
agar hujan turun untuk menggagalkan kegiatan berkunjung kekasih. Hari ini aku
akan membuat sebuah cerita pendek yang temanya belum aku ketahui. Sesambil Aku memasak
air untuk menyeduh kopi, aku mempersiapkan sebuah laptop, sebuah buku, dan
sebuah pulpen. Air dimasak, gelaspun bertindak. Setelah selesai aku menyeduh kopi.
Aku duduk dengan manis berhadapan dengan sebuah laptop yang terdiam kaku, tak
berucap, tak menyala. ternyata lupa aku menekan tombol power.
Dan… “net!! syyyiiiinggh”
kira-kira begitulah suara laptop tua , laptop menyala dengan hati gembira. Ketika
aku bersiap mengetik sebuah cerita, dengan perasaan senang riang gembira,
tiba-tiba ada suara kecil…. “meong..meong..meong”. terdiam aku terpanah dengan
suara anak kucing yang tak tahu tempat suara itu berasal. Lalu aku cari suara
itu. Dibalik lemari, di bawah tempat tidur, di sudut kamar, tidak ada! Aku curiga
itu ada di dalam tasku, ataupun di dalam dompetku, atau ia hanya suara
halusinasiku. Kacau pikiranku.. Malam ini terasa mencekam, namun tak sehebat mencekamnya
sang kekasih mengucap “kita putus, kamu terlalu baik untuk aku”. Terdiamku di
bilik pintu kamar, bersandar sambil sesekali memejamkan mata. “ohh tuhaaan..
jangan kau rusak malam ini dengan suara misterius ini” berdoaku dengan
mengangkat tangan lebih tinggi dari biasanya. Tak tahu aku suara itu, menengok
ke kanan dan ke kiri, hanya siluet hitam yang menemani.
Lalu aku dengar dengan seksama
dalam tempo yang sesingkatnya. “meong..meong..meong” Siapa ituuuuu? Aku
bertanya seakan-akan ada yang menjawab. Aku tebak suara itu berasal dari lemari
baju, diam-diam aku mengendap-endap merangkak mendekati lemari. Lalu aku buka
lemari itu. Dan… “meong..meong..meong” ADA KUCING MELAHIRKAN DI LEMARIKU! Ada
seekor ibu kucing dan tiga anaknya yang menangis. Ingin aku tertawa, namun tak
bisa. Menangis, juga tak bisa. KAGET itu kata yang pantas untuk “lelaki paruh
baya yang menemukan kucing melahirkan dilemarinya”.
Tidak sampai disitu, ibu kucing
itu pergi meninggalkan anak-anaknya dari lemariku dengan rasa tidak bersalah.
“Heh! Seenaknya aja melahirkan di
lemari orang, anak-anaknya ditinggal, gak permisi pula” celotehanku dengan
bodohnya, seakan-akan memaksa kucing itu menjawab “iya, maaf”
“maaa.. ada kucing melahirkan di
lemari baju nih”
“hah! Jangan bercanda deh kamu.” Ibuku
menjawab, seperti tak percaya.
“buat apa bohong ma? Mau minta
uang jajan, ngapain bohong begini”
“kok sudah melahirkan aja, kapan
hamilnya?” Ibuku bertanya dengan polosnya.
“nahloh.. mana Yusril tau,
emangnya Yusril yang bikin hamil” Menjawab dengan herannya.
“yasudah.. pindahin aja..”
“Lemarinya??”
“bukan, kucingnya lah”
“kucingnya kan pergi”
“itu ibunya, anaknya yang
dipindahin”
“ohiya..” Mengakhiri obrolan
jarak jauh dari kamar ke kamar.
Lalu aku memindahkan anak-anak
kucing yang lucu nan imut itu dengan harapan ketika sudah besar nanti, tidak
seperti ibunya yang melahirkan di lemari baju orang. “lucunya negeri ini” tidak
hanya berlaku untuk manusia didalamnya, namun untuk semuanya tak kecuali
kucing. Walau itu hanya anak kucing tapi apa bedanya dengan anak bayi, yang
masih rapuh, membutuhkan kasih sayang, harus ada yang selalu di sampingnya. Malu aku malu, pada semut merah. Yang berbaris di dinding, menatapku curiga, seakan
penuh tanya “sedang apa disini?” Memindahkan anak kucing jawabku.
