Selasa, 25 Oktober 2016

Pena Sang Mentari #1

“Salam jumpa, salam kasih.
Ucap rindu untuk kalian yang menanti”

Jiaah.. Kepedean banget yaa.. gapapa. Hidup kadang perlu dipedein, yang saya jelaskan di sini berbeda dengan percaya diri yaa.. walaupun sebenarnya sama. Tapi, yang saya tekankan disini adalah percaya diri lebih, atau kepedean. “Hidup kadang perlu dipedein”. Kenapa? Orang yang kepedean, menurut saya adalah orang yang mencoba membangun kepercayaan dirinya. Kenapa saya berpendapat begitu? Sudaaaaaah.. kebanyakan nanya, gak selesai-selesai ini..

Kurang lebih sudah 5 bulan, saya baru mulai memosting blog lagi, kenapa? Sudaaaah.. kebanyakan nanya, Sabaaaar... Saya alhamdulillah sudah mulai disibukan dengan berbagai kegiatan yang mengasah kemampuan berorganisasi. Mulai dari kegiatan UNITAS di kampus, pementasan drama di semester 3, 2 kali pementasan drama di semester 4, ikut perlombaan Festival Teater Jakarta Selatan bersama Teater DNA pada tanggal 24 September lalu, Koordinator acara di acara ulang tahun CCE Community dan menyutradarai drama musikal yang ada dirangkaian acara, dan.. masih banyak lainnya. Syukurnya adalah saya dapat mengikuti kegiatan yang cocok dengan kemampuan saya, dan terpenting saya sukai, dengan begitu saya bisa menikmati. Lelah? Yaaa memang lelah, tapi anggap seperti terpaan angin ke pohon yang menjulang tinggi, seperti jalan dengan sedikit batu kerikil, seperti nasi padang yang kurang begitu nikmat karena sambel ijonya dikit... yaaa seperti itulaaah...

“Jangan pernah merasa lelah. Sampai lelah, terasa lelah untuk mengikutimu. Tetap semangat, hingga semangat heran melihat semangatmu” –Dita Jumanto (Enje)

Saat ini, saya akan menceritakan pengalaman-pengalaman yang telah saya lalui sesuai dengan apa yang telah saya sebutkan. Saya akan menceritakan sesuatu kejadian menarik dari pengalaman tersebut.

Pementasan Drama di semester 3
Mungkin ini gak berbeda jauh dengan cerita yang pernah saya tulis di postingan sebelumnya. Semester 3 ini menurut saya adalah semester awal menuju pengerucutan jurusan. Pada semester sebelumnya; 1 dan 2. Masih sekedar materi-materi. Bisa dianggap semester 1 dan 2 ini adalah semester perkenalan. Kami diperkenalkan tentang jurusan yang kami pilih, kami diberikan pemahaman dari timbulnya pertanyaan “Apa tujuan kalian memilih jurusan bahasa Indonesia?” atau “Apa yang akan kalian dapatkan dari belajar di jurusan bahasa Indonesia” dan pemahaman-pemahaman lainnya.

Kembali ke topik. Di semester 3 ini saya ada sebuah pementasan drama tanggal 1 Desember 2015. Yaa.. sudah hampir setahun yang lalu. Di pementasa ini, saya menampilkan drama yang berjudul “Pena Sang Mentari” yang dibuat oleh saya sendiri. 

Berkisahkan tentang perjuangan mahasiswa bahasa Indonesia yang bernama Amar, untuk mewujudkan cita-citanya menjadi seorang penulis. Berbagai sindiran dan keraguan orang-orang tentang jurusan bahasa Indonesia mampu ia hadapi, walau dekang sedikit drama; Amar memberontak kepada keluarganya yang meragukan bahkan melarang memilih jurusan tersebut. Perjuangan terus berlanjut hingga di suatu ketika, Amar bisa membuat sebuah buku yang menceritakan tentang perjuangannya. Amar mampu menjadi penulis terkenal, bukunya menjadi best seller di Indonesia. Di akhir pentas, Amar berpesan kepada para hadirin untuk terus berjuang, mewujudkan cita-citanya, rintangan pasti ada, yang terpenting seberapa besar tekad kita untuk mewujudkannya.

“Keberhasilan yang paling indah adalah keberhasilan yang berawal dari keraguan orang lain.” –Amar dalam drama Pena Sang Mentari.

Dari Pena Sang Mentari ini, kelas saya berhasil mendapatkan hati para dewan juri sebagai “Tema dan Amanat Terbaik”. walaupun tidak menjadi yang nomor satu, tetapi itu sudah membuat saya bangga dan senang, yang terpenting dari saya selaku penulis naskah dan pemain adalah apa yang disampaikan dapat didengar dan dipahami para hadirin. Penghargaan adalah bonus, proses lah yang menentukan.


Bersambung...

Selasa, 10 Mei 2016

Dengannya Masa Mudaku Terbawa Arah



Menjadi penyendiri adalah bukan suatu yang aku pilih, aku memilih berteman daripada berdiam. Namun, tak bisa dipungkiri. Lambat lawun semua menjadi seperti ini; sendiri atau menyendiri.

“Assalamualaikum..  berangkat maaa”. Aku menyapa Ibuku untuk pergi berangkat ke Toko Buku Gramedia di mall dekat rumah. “Hati-hati.. Jangan lupa shalat”. Jawab Ibuku yang tiada henti mengingatkanku untuk mengingat Sang Pencipta.

Berdiri Aku di tepi jalan, berbalut kemeja biru sederhana, bercelana Jeans panjang berujung sepatu besar seperti sepatu Boot para petani. Sambil menggendong tas coklat dengan eratnya, aku menunggu angkutan usang namun istimewa. Dengannya masa mudaku terbawa arah. Kira-kira 30 menit menunggu ia tak datang jua, ku tengok waktu terus berjalan seiring arah detik jam berputar. Datanglah angkutan usang namun istimewa itu dari kejauhan. Terlihat samar seiring pandangan ke depan, terlihat pengemudi besi tua itu yang juga sudah tua, berjalan sangat lambat, bahkan lebih cepat larinya seorang anak kecil yang berada di sampingnya untuk mengejar layang-layang. Tanganku bersiap-siap memberi aba-aba untuk memberhentikan besi tua itu. Sekiranya sudah semakin dekat jarak antara Dia dengan aku, ku tandai dengan setengah mengangkat tangan kiriku, lalu ku lambaikan dengan jari telunjuk. Bersamaan dengan itu aku berpikir ada yang aneh, “Ajaib!” ilmu macam apa ini? Seakan sang pengemudi itu sudah terhipnotis bahwa jika ada yang mengangkat tangannya lalu melambaikan jari-jarinya itu bertanda bahwa seseorang itu ingin menumpang. Tahu dari mana pengemudi itu? Seperi ada ikatan batin, aku curiga bahwa tanda itu juga termasuk di latihan pengemudi angkutan selain latihan mengenali tanda pada lampu lalu lintas. Lalu muncul dari pintu mobil itu, ada seorang anak muda bergelantungan menyapa semua orang yang ada di pinggir jalan “ayo mba, Pasar Minggu!”. Baju kusut dan kotor seperti baju montir, keringat bercucuran menjadi gaya penampilannya, semakin meyakinkan bahwa ia adalah kondekturnya.
      
      Menurutku menaiki angkutan adalah termasuk kebahagiaan tinggal di Indonesia, karena kita bisa bertemu orang-orang baru di setiap harinya. Sama halnya sebuah perasaan yang datang dan pergi, setiap kehidupan tak ada yang abadi. Posisi kursi yang paling “ideal” terlebih bagi kaum laki-laki adalah di kursi paling belakang, aku tahu kenapa? Karena tidak perlu susah untuk berdiri untuk turun. Namun, sama halnya dengan sebuah pilihan, ada baik dan buruknya. “neraka”nya duduk di kursi paling belakang di sebuah mobil angkutan adalah jika tidak ada kondekturnya “dan” penumpang sedang ramai-ramainya. Di situlah cara berpikir kita diuji, antara berjuang menerobos para penumpang dari berbagai macam bau badan atau bayar dengan cara keluar lebih dahulu lalu membayar langsung ke supir dari luar, namun hati-hati karena bisa disangka kabur (gak bayar).
      
     Hanya dari perjalanan di sebuah angkutan saja, sebenarnya kita sudah bisa mendapatkan cerita yang lucu dan pastinya jarang orang lain dapatkan. Bagaimana tidak? Karena banyak sekali keunikan tersendirinya. Mulai dari yang tadi aku sebutkan, para penumpang yang membayar ongkos angkutan dengan uang seratus ribuan –pada pagi hari-, obrolan dengan para pedagang kaki lima; tukang buah, tukang lem Korea, tukang permen jahe, hingga pengemis yang pura-pura kakinya buntung. Bisakah didapatkan selain di Indonesia? Belum tentu, negara ini terlalu unik untuk dibandingkan. Jadi, menurutku kita sebagai manusia harus mulai bisa menghargai apapun yang ada disekitar dengan se-detail mungkin, karena pasti itu adalah sesuatu yang jarang kita temukan atau bahkan tidak pernah lagi kita temukan.

Minggu, 01 Mei 2016

Rindu Hujan atau Rindu Perasaan

Lembayung senja bersipuh malu
Ketika hujan turun dengan mesranya
Hari ini langit sedang pilu merayu
Hujan turun seakan malu
Seduh..
Pilu..
Tak menentu..

Ingin sekali ku tanya
"Kenapa cepat sekali engkau merindu?"
Senja merindukan hujan
Hujan memberikan kenangan
Seperti ingin mengisyaratkan sebuah perasaan
Lebih nikmat mana?
Hujan turun merindu
Atau engkau berdoa agar hujan mampu memberikan jawaban bagi asmara yang dirindu

Penguasa muda

Usang..
Hilang...
Bayang..
Tiga kata penuh aksara
Saat ini, bersama bulan yang membual kepada bintang
Kini ku berada di jejak nestapa yang paling dalam
Berada di sudut yang paling dalam
Sepi, Sunyi, dan Kelam

Menatap bayang topeng penuh dugaan
Jumlahnya dua puluh sembilan
Terkadang berada di ujung senyuman, dan diujung kesepian
Mereka tertawa, bercanda, penuh dambaan
Akhir ini seringkali dalam dada penuh pengucapan
Dua dimensi, antara kebingungan dan kesepian

Ikut aku terhanyut canda tawa
Dari mereka yang penuh dengan puisi dan drama
Mereka yang terbiasa menjadi biasa
Dan mereka yang tidak biasa menjadi terbiasa

Keyakinan yang sedang ku siram supaya dewasa
Kini matahari sudah heran untuk menyinarinya
Sama halnya dengan hari, kawan adalah misteri lama
Entah hari ini, besok, atau lusa
Mereka berbeda di setiap jamnya

Seperti noda dalam baju
Seperti ada yang beda dari hati
Apakah kalian membagi-bagi hati?
Seperti halnya membatas-batasi kebodohan dengan kepintaran
Pengalaman atau tak berguna?

Dan kamu, untuk kamu pemuda degan rambut berselimut
Pernah tidak berpikir bahwa dunia itu luas?
Dunia buruk bukan karena orang jahat, tetapi karena orang yang tidak adil
Membagi porsinya secara individu
Seperti putih yang selalu bersama putih
Bagaimana dengan yang merah, kuning, hitam, hijau?
Pernahkah terlintas di pola pikirmu itu?

Aku begini karena peduli
Mungkin "yaudah sih, tinggal tulis sendiri" sebagai alasmu
Mungkin "makanya, piknik keluar. jalan-jalan" sebagai matamu
Mungkin "Lebay banget jadi laki-laki" sebagai mulutmu
Selalu mungkin, dan mungkin, Pasti mungkin
Engkau Mengelak

Minggu, 07 Februari 2016

Cerpen : misteri suara "Meong" di kamarku

Hari minggu, adalah hari ketika kami “jomblo” ingin menghabiskan waktu dengan satu hobi. Baik itu menonton televisi, berebut remote televisi, berunding bersama mengumpulkan uang untuk membeli televisi, dan seminimum mungkin berdoa agar hujan turun untuk menggagalkan kegiatan berkunjung kekasih. Hari ini aku akan membuat sebuah cerita pendek yang temanya belum aku ketahui. Sesambil Aku memasak air untuk menyeduh kopi, aku mempersiapkan sebuah laptop, sebuah buku, dan sebuah pulpen. Air dimasak, gelaspun bertindak. Setelah selesai aku menyeduh kopi. Aku duduk dengan manis berhadapan dengan sebuah laptop yang terdiam kaku, tak berucap, tak menyala. ternyata lupa aku menekan tombol power.

Dan… “net!! syyyiiiinggh” kira-kira begitulah suara laptop tua , laptop menyala dengan hati gembira. Ketika aku bersiap mengetik sebuah cerita, dengan perasaan senang riang gembira, tiba-tiba ada suara kecil…. “meong..meong..meong”. terdiam aku terpanah dengan suara anak kucing yang tak tahu tempat suara itu berasal. Lalu aku cari suara itu. Dibalik lemari, di bawah tempat tidur, di sudut kamar, tidak ada! Aku curiga itu ada di dalam tasku, ataupun di dalam dompetku, atau ia hanya suara halusinasiku. Kacau pikiranku.. Malam ini terasa mencekam, namun tak sehebat mencekamnya sang kekasih mengucap “kita putus, kamu terlalu baik untuk aku”. Terdiamku di bilik pintu kamar, bersandar sambil sesekali memejamkan mata. “ohh tuhaaan.. jangan kau rusak malam ini dengan suara misterius ini” berdoaku dengan mengangkat tangan lebih tinggi dari biasanya. Tak tahu aku suara itu, menengok ke kanan dan ke kiri, hanya siluet hitam yang menemani.

Lalu aku dengar dengan seksama dalam tempo yang sesingkatnya. “meong..meong..meong” Siapa ituuuuu? Aku bertanya seakan-akan ada yang menjawab. Aku tebak suara itu berasal dari lemari baju, diam-diam aku mengendap-endap merangkak mendekati lemari. Lalu aku buka lemari itu. Dan… “meong..meong..meong” ADA KUCING MELAHIRKAN DI LEMARIKU! Ada seekor ibu kucing dan tiga anaknya yang menangis. Ingin aku tertawa, namun tak bisa. Menangis, juga tak bisa. KAGET itu kata yang pantas untuk “lelaki paruh baya yang menemukan kucing melahirkan dilemarinya”.

Tidak sampai disitu, ibu kucing itu pergi meninggalkan anak-anaknya dari lemariku dengan rasa tidak bersalah.
“Heh! Seenaknya aja melahirkan di lemari orang, anak-anaknya ditinggal, gak permisi pula” celotehanku dengan bodohnya, seakan-akan memaksa kucing itu menjawab “iya, maaf”

“maaa.. ada kucing melahirkan di lemari baju nih”
“hah! Jangan bercanda deh kamu.” Ibuku menjawab, seperti tak percaya.
“buat apa bohong ma? Mau minta uang jajan, ngapain bohong begini”
“kok sudah melahirkan aja, kapan hamilnya?” Ibuku bertanya dengan polosnya.
“nahloh.. mana Yusril tau, emangnya Yusril yang bikin hamil” Menjawab dengan herannya.
“yasudah.. pindahin aja..”
“Lemarinya??”
“bukan, kucingnya lah”
“kucingnya kan pergi”
“itu ibunya, anaknya yang dipindahin”
“ohiya..” Mengakhiri obrolan jarak jauh dari kamar ke kamar.

Lalu aku memindahkan anak-anak kucing yang lucu nan imut itu dengan harapan ketika sudah besar nanti, tidak seperti ibunya yang melahirkan di lemari baju orang. “lucunya negeri ini” tidak hanya berlaku untuk manusia didalamnya, namun untuk semuanya tak kecuali kucing. Walau itu hanya anak kucing tapi apa bedanya dengan anak bayi, yang masih rapuh, membutuhkan kasih sayang, harus ada yang selalu di sampingnya. Malu aku malu, pada semut merah. Yang  berbaris di dinding, menatapku curiga, seakan penuh tanya “sedang apa disini?” Memindahkan anak kucing jawabku.

Dan akhirnya aku ganti keinginan menulis sebuah cerita pendek dengan keinginan yang memaksakan untuk memindahkan dan membersihkan TKP (Tempat Kelahiran Perkara). Aku tidak sedih apalagi kesal, karena memang  cerita pendekku temanya masih belum aku ketahui.

Senin, 01 Februari 2016

Mari Berandai Kesepian dan Pengucapan



Sepi, adalah kata berjuta makna. Bagi gua sama halnya dengan perpindahan, kesepian itu adalah pasti. Benar atau salah setiap manusia pasti pernah berada di suatu titik dimana hanya hati dan pikiran yang menemani. kesepian tidak hanya ketika seseorang sendirian. Banyak juga yang merasakan kesepian diantara keramaian. Imajinasi berandai-andai seperti hujan di siang hari. Hujan tidak memandang ketika panas atau mendung. Ia dating hanya untuk mengisi kekosongan. Seperti matahari dengan gerhana yang menjadikannya lebih indah.. seperti bubur nasi dengan taburan bawang gorengnya.. mungkin terlihat tidak penting, namun sangat mempengaruhi rasa buburnya..

Tapi kali ini gua gak ingin membicarakan buburnya, namun taburan bawang gorengnya. Siapa sangka dengan sedikit taburan bisa mempengaruhi rasa. Seperti air yang selalu rendah diri dengan kopi. 

Banyak orang mengatakan “minum kopi”, namun mereka tidak memikirkan perasaan airnya. Bagaimana bisa kita minum kopi tanpa menggunakan air. Kenapa mereka tidak mengatakan “minum air kopi” ketimbang “minum kopi”?? seberapa tidak pentingnya air itu?? Itu ibarat datang ke pesta pernikahan, namun kita hanya bersalaman dengan mempelai wanitanya.

Banyak banget pemikiran masyarakat yang salah. Misalkan pengejaan huruf alphabet. Gua udah setahun lebih belajar Bahasa Indonesia. Dan gua sadar bahwa ada yang salah dengan pengejaan anak kecil jaman sekarang.. gua beranggapan begitu ketika belajar mata kuliah fonologi, ilmu yang mempelajari bunyi Bahasa. Jadi gua belajar fonologi semeseter 1 berasa belajar membaca kelas 1 SD (karena pengalaman gua gak pernah TK, langsung ke sekolah dasar). Pengejaaan huruf yang salah adalah huruf L, M, N, R, dan S.

Contoh huruf L, pengucapannya sebenarnya seperti pengucapan huruf e kecil dan huruf L (eL). Tetapi yang diajarkan saat ini adalah pengucapan L itu adalah seperti pengucapan E besar dan huruf L (EL). Kalau di sebuah kata LALA. Pengucapannya eL-A-LA eL-A-LA = LALA, bukan seperti EL-A-LA EL-A-LA = ELAELA. Sama halnya dengan M,N,R,dan S = eM-A-MA eM-A-MA = MAMA, bukan seperti EM-A-MA EM-A-MA = EMA-EMA. Menurut gua pengucapan salah ini yang menciptakan panggilan “EMA-EMA/EMAK-EMAK”.

Maaf kalau materi ilmunya kurang jelas, karena itu ilmu bunyi bahasa, jadi agak sulit kalau dijadikan sebuah tulisan...

Rabu, 13 Januari 2016

3R - Rindu, Resah, dan Resolusi

Salam jumpa kembali, bersama saya yang masih sendiri. Barangkali kamu bisa membuka hati kepada pemuda sopan yang menuliskan kalimat ini. Banyak banget hal-hal yang gua lalui dari semester 3 ini, mulai dari kisah konflik menjadi pimpinan redaksi majalah kampus, pementasan drama “Gado-Gado Sastra”, dan sampai gua bisa ber-Stand Up Comedy di acara KSR PMI UNINDRA. Gua akan menceritakan keresahan gua saat ini yang dijadikan sebuah bahan stand up comedy, semoga kamu suka, kalau gak suka yaaaa pura-pura suka lah yaa…

Mahasiswa bahasa Indonesia, adalah mahasiswa berjiwa muda, karena pemuda jaman sekarang sangatlah berperasaan, makanya gua setuju dengan pernyataan bahwa Jurusan bahasa dan sastra adalah jurusan yang didalamnya banyak orang-orang baper, baper banget malah.. kita dituntut untuk peka terhadap perasaan..  

Makanya banyak yang anak bahasa itu suka banget bergalau ria. Galau bagi kami (mahasiwa bahasa) bukan bersedih hati, tapi hiburan.. tapi terkadang suka salah dalam penempatannya.

Misalkan lagi belajar dikelas, ada dosen perempuan tanya ke mahasiswanya yang lagi bengong. Sebut saja namanya “indri”, nama panjangnya “getuk lINDRI”, yang kalau jualan tukangnya pake gerobak sambil setel lagu dangdut koplo..

Dosen : “Indri, apa harapan kamu tentang pendidikan di Indonesia?”

Terus Indrinya jawab. “Harapan saya.. sudah pupus bu.. hingga hati cedera serius..”. Malah curhat..

Ada lagi tuh dosen, dosen terkadang suka ngomel-ngomel kalau ada kesalahan penulisan nama, aslinya namanya “ Dian Siti maghfiroh, jadi “Dian Siti Nurbaya..” malah judul cerita rakyat..
Misalkan lagi pengumpulan tugas makalah, terus penulisan namanya ada yang salah, dosennya protes.

“heh, ini kok nama saya jadi berubah? Kamu lupa??..”

Terus mahasiswanya minta maaf. “ohiya bu, maaf.. saya lupa..”

Dosennya jawab. “Kamu mah gitu, lupa nama, inget rasa…”. Dosennya malah jadi genit..

Tapi gapapalah, karena itu wajar. Kami para mahasiswa bahasa suka menghibur diri dengan cara itu. Justru itu asik.. kami menghibur diri karena kita juga bisa stres dengan mata kuliah. Kita juga manusia loh.. kita banyak mempelajari istilah-istilah yang kadang bisa bikin mati berdiri..
Mata kuliah kita nih ada fonologi, morfologi, sintaksis, semantik, pragmatik, zaskia gotik, goyang itik, pantat burik, maju mundur cantiiiiiik.. banyak dah pokoknya…  

Ada juga mata kuliah “Teori Sastra”. Yang paling gua suka adalah ketika acara pementasan drama yaitu “Gado-Gado Sastra”.. banyak banger suka-dukanya. Mulai dari rapat naskah ceritanya, pengeditan berulang-ulang sampe gua sakit tipes, konflik di perdebatan latihan para pemainnya, kesalahan sama penulis naskahnya. Ngomong-ngomong ttg penulis naskahnya itu adalah gua, gua sangat merasa bersalah ketika satu hari sebelum pementasan, kita saling debat ttg unek-unek para pemain. Dan kebanyakan pada gak suka sama gua. Mengenai gak sukanya nanti bakal gua ceritain di lain posting.

Tibalah waktu pementasan, waktu itu kelas gua urutan ke-4. Judulnya adalah “Pena Sang Mentari”. Dan gua selain jadi penulis naskah, juga sebagai pemeran utama, pemeran utama… menjadi pertama kalinya memainkan drama dan jadi pemeran utama.. luar biasa banget bagi gua.

Pas gilliran kelas gua, gua siap-siap dibelakang tirai bersama properti. Ketika gua siap di bangku latar ruang makan. Gua sangat deg-degan.. sumpah.. gua gak bisa bayangin gimana tampilannya ketika tirai dibuka.. siap gak siap pastinya harus siap.. scene 1 dimulai, tirai dibuka, disaat itu gua berdebat sama temen gua ochol berperan sebagai ibunya amar dan gua jadi amar. Dialog dibagian itu adalah dialog yang memulai konflik.. tapi gua ada salah pengucapan yang gak gua sadari. Kalimatnya begini “Kenapa ibu selalu membandingkan aku dengan pekerjaan yang lain, membandingkan aku dengan kakak, membandingkan aku dengan Amar.. memangnya Amar salah bu??” salah di gua adalah jelas-jelas gua adalah Amar, kenapa gua membandingkan gua dengan diri gua sendiri.. sontak penonton yang denger jadi ketawa, padahal harusnya itu bagian konflik awal, marah… gua gak sadar kesalahan ucapan itu, gua bingung, gua berteriak dalam hati “kenapa penonton pada ketawaaa?? Ini gua lagi debat sama emak guaaa… lucunya dimanaaaa???”

Sampai akhirnya, cerita gua walaupun gak juara 1,2, atau 3. Tapi dapet juara “Tema dan Amanat Terbaik”. Baguslah yaa… berarti amanat didalamnya bisa tersampaikan. Bersyukur banget menjadikan pengalaman yang berarti banget bagi gua. Karena itu gua semakin tertarik sama dunia sastra baik itu drama, dan juga Stand Up Comedy pastinyaa.. hahaha

Semoga di tahun baru ini kita bisa memulai hidup menjadi lebih baik lagi. Mengenai resolusi di tahun ini, biarlah menjadi motivasi tersendiri. Nantikan lagi cerita dari pemuda bahasa, semoga kamu terbiasa dengan cerita yang terkadang bisa memutar balikkan fakta… setidaknya merusak pikiran lah yaa.. haahaha..