Menjadi penyendiri adalah bukan suatu yang aku pilih, aku memilih berteman
daripada berdiam. Namun, tak bisa dipungkiri. Lambat lawun semua menjadi
seperti ini; sendiri atau menyendiri.
“Assalamualaikum..
berangkat maaa”. Aku menyapa Ibuku untuk
pergi berangkat ke Toko Buku Gramedia di mall dekat rumah. “Hati-hati.. Jangan
lupa shalat”. Jawab Ibuku yang tiada henti mengingatkanku untuk mengingat Sang
Pencipta.
Berdiri
Aku di tepi jalan, berbalut kemeja biru sederhana, bercelana Jeans panjang berujung sepatu besar
seperti sepatu Boot para petani.
Sambil menggendong tas coklat dengan eratnya, aku menunggu angkutan usang namun
istimewa. Dengannya masa mudaku terbawa arah. Kira-kira 30 menit menunggu ia
tak datang jua, ku tengok waktu terus berjalan seiring arah detik jam berputar.
Datanglah angkutan usang namun istimewa itu dari kejauhan. Terlihat samar
seiring pandangan ke depan, terlihat pengemudi besi tua itu yang juga sudah
tua, berjalan sangat lambat, bahkan lebih cepat larinya seorang anak kecil yang
berada di sampingnya untuk mengejar layang-layang. Tanganku bersiap-siap
memberi aba-aba untuk memberhentikan besi tua itu. Sekiranya sudah semakin
dekat jarak antara Dia dengan aku, ku tandai dengan setengah mengangkat tangan
kiriku, lalu ku lambaikan dengan jari telunjuk. Bersamaan dengan itu aku
berpikir ada yang aneh, “Ajaib!” ilmu macam apa ini? Seakan sang pengemudi itu
sudah terhipnotis bahwa jika ada yang mengangkat tangannya lalu melambaikan
jari-jarinya itu bertanda bahwa seseorang itu ingin menumpang. Tahu dari mana
pengemudi itu? Seperi ada ikatan batin, aku curiga bahwa tanda itu juga
termasuk di latihan pengemudi angkutan selain latihan mengenali tanda pada
lampu lalu lintas. Lalu muncul dari pintu mobil itu, ada seorang anak muda
bergelantungan menyapa semua orang yang ada di pinggir jalan “ayo mba, Pasar
Minggu!”. Baju kusut dan kotor seperti baju montir, keringat bercucuran menjadi
gaya penampilannya, semakin meyakinkan bahwa ia adalah kondekturnya.
Menurutku menaiki angkutan adalah
termasuk kebahagiaan tinggal di Indonesia, karena kita bisa bertemu orang-orang
baru di setiap harinya. Sama halnya sebuah perasaan yang datang dan pergi,
setiap kehidupan tak ada yang abadi. Posisi kursi yang paling “ideal” terlebih
bagi kaum laki-laki adalah di kursi paling belakang, aku tahu kenapa? Karena
tidak perlu susah untuk berdiri untuk turun. Namun, sama halnya dengan sebuah
pilihan, ada baik dan buruknya. “neraka”nya duduk di kursi paling belakang di
sebuah mobil angkutan adalah jika tidak ada kondekturnya “dan” penumpang sedang
ramai-ramainya. Di situlah cara berpikir kita diuji, antara berjuang menerobos
para penumpang dari berbagai macam bau badan atau bayar dengan cara keluar
lebih dahulu lalu membayar langsung ke supir dari luar, namun hati-hati karena
bisa disangka kabur (gak bayar).
Hanya dari perjalanan di
sebuah angkutan saja, sebenarnya kita sudah bisa mendapatkan cerita yang lucu
dan pastinya jarang orang lain dapatkan. Bagaimana tidak? Karena banyak sekali
keunikan tersendirinya. Mulai dari yang tadi aku sebutkan, para penumpang yang
membayar ongkos angkutan dengan uang seratus ribuan –pada pagi hari-, obrolan
dengan para pedagang kaki lima; tukang buah, tukang lem Korea, tukang permen
jahe, hingga pengemis yang pura-pura kakinya buntung. Bisakah didapatkan selain
di Indonesia? Belum tentu, negara ini terlalu unik untuk dibandingkan. Jadi,
menurutku kita sebagai manusia harus mulai bisa menghargai apapun yang ada
disekitar dengan se-detail mungkin,
karena pasti itu adalah sesuatu yang jarang kita temukan atau bahkan tidak
pernah lagi kita temukan.